Badung, KompasOtomotif – Setelah melalui perjalanan panjang sejak Senin (4/2) hingga Kamis (7/4) dalam ajang ”E-Halt Challenge with SKYACTIVE Technology”, Mazda CX-5 berhasil menempuh jarak 1.112,3 km dari Jakarta hingga Bali hanya dengan modal 56 liter bensin beroktan 92. Berarti, perbandingan konsumsi bahan bakar SUV 2.000cc itu tembus 1:19,8, dengan teknik ECO driving.
Hasil itu di luar ekspektasi awal yang diperkirakan perbandingan konsumsi bahan bakarnya 1:14 hingga 1:16. Dari tujuh mobil yang masing-masing diisi dua wartawan otomotif nasional mempunyai bobot dan bahan bakar sama. Hasilnya, paling rendah menempuh 1.046 km yang berhenti di kawasan Taman Nasional Baluran, Situbondo, dengan perbandingan konsumsi bahan bakar 1:18,6.
KompasOtomotif yang berpasangan dengan Auto Bild Indonesia menghabiskan bensin dan mesin mati setelah menempuh 1.103,2 km (1:19,7) menjadi yang terjauh ketiga. Sementara hasil lain dengan jarak paling jauh kedua terpatok pada 1.109,7 km (1:19,8).
”Terus terang rekor yang ditempuh tim Mazda terpecahkan. Kami sangat surprised dengan hasil ini meski tidak akan dijadikan klaim konsumsi bahan bakar. Yang jelas teknologi SKYACTIVE pada Mazda CX-5 terbukti efisien,” ujar Marketing Manager PT Mazda Motor Indonesia (MMI) Astrid Ariani Wijana.
ECO Drive
Apa yang dikatakan Astrid mungkin benar dan tidak menjadi patokan, karena kondisi pemakaian sehari-hari akan berbeda. Teknik mengemudi efisien berperan penting dalam tantangan ini, dengan mencari kecepatan paling ideal untuk meraih konsumsi bahan bakar seirit mungkin.
Selama perjalanan, KompasOtomotif berusaha konsisten di kecepatan 57 kpj di gigi 6 dengan menggeser tuas transmisi otomatik SKYACTIVE-Drive ke posisi manual. Jika jalanan ramai lancar, kecepatan diturunkan ke 45 kpj dengan gigi 5. Semua gigi diusahakan berada pada putaran mesin 1.250 rpm.
Selain transmisi SKYACTIVE-Drive yang didesain untuk mendapatkan lock up di setiap gigi, Mazda CX-5 dilengkapi fitur yang menunjang untuk berkendara efisien. Cruise control adalah salah satunya, dan sangat diperlukan untuk mempertahankan kecepatan ideal. Pendingin kabin juga dilengkapi setelan ECO untuk ”menahan” kompresor menyala terlalu lama.
Pelan bukan berarti irit. Mencari momentum sangat penting dalam tantangan ini. Sebisa mungkin mobil menggelinding tanpa banyak ”bejek” gas. Mungkin sedikit ”berkorban” untuk tarikan awal, tapi dapat momentum belakangan. Apalagi di jalanan yang sedikit menanjak, jalan pelan-pelan justru boros!
Beberapa kali rombongan melewati jalanan naik-turun, seperti di daerah Alas Roban, Jawa Tengah, atau di selama perjalanan selepas Probolinggo hingga Ketapang. Di sinilah kunci kesabaran sesungguhnya untuk tetap fokus soal efisiensi. (bersambung)



0 komentar:
Posting Komentar