Tokyo/Detroit,KompasOtomotif - Ketika harga bahan bakar minyak dunia kian mahal, para produsen mobil di dunia coba mencari alternatif. Solusinya, lahirnya mobil berteknologi hybrid yang diprakarsai oleh Toyota sebagai pemasar pertama pada era 1990-an. Menyusul kemudian mobil listrik (electric vehicle=EV) oleh perusahaan Amerika Tesla Mototrs dengan produk Tesla Roadster dipasarkan pada 2008.
Dari Jepang, Mitsubishi menjadi yang pertama memasarkan i-MiEV untuk pasar domestik dan Amerika pada 2009. Tahun berikut, Nissan dengan kendaraan andalan Leaf, selain dijual di negeri sendiri, juga diekspor ke Amerika. Berbagai produsen lain, baik di Jepang, Eropa dan Amerika berbondong-bondong menyiapkan mobil listrik.
Namun, memasuki tahun ular air, industri otomotif dikejutkan oleh keputusan dari para produsen ternama di Asia, Eropa dan Amerika Utara untuk beralih ke bahan bakar baru yang menjanjikan, hidrogen. Keputusan peralihan ini dipicu minat konsumen terhadap mobil listrik yang terus merosot karena beberapa faktor.
Paling utama, selain biaya tinggi dan jangkauan jarak yang pendek, yakni kurangnya stasiun pengisian baterai. Sehingga, konsumen, terutama di Amerika yang ingin bepergian dengan jarak cukup jauh merasa tidak nyaman. Bahkan masyarakat di Amerika membujuk pemerintah Obama untuk mengurungkan tujuan agresifnya yang menargetkan 1 juta mobil listrik di jalan-jalan di AS pada 2015.
Ghosn menyerah
CEO Nissan Motor Co Carlos Ghosn yang dulunya paling gencar mendukung mobil listrik, akhirnya menyerahkan juga setelah produk andalannya Leaf sulit diterima pasar. Desember tahun lalu, ia mengumumkan langsung pergeseran teknologi Nissan untuk produk ramah linkungan dari EV ke bensin-listrik alias hybrid.
Langkah Ghosn ini secara luas dilihat sebagai pengakuan diam-diam Ghosn yang gagal memenuhi ambisinya bisa menjual ratusan ribu Nissan Leaf. Sementara dana buat pengembangfan sudah dihabiskan miliaran dollar. Akhirnya, Nissan berencana mengikuti saigannya Toyota Motor Co yang terbilang sukses dengan kendaraan hibridanya.
Padahal, Nissan bersama Renault dan mitra mereka dari Perancis telah berkomitmen menanamkan investasi 5 miliar dollar Amerika atau Rp48,6 triliun untuk pengembangan dan pembuatan mobil listrik.
Hasilnya, sejak Leaf dipasarkan dua tahun lalu baru terjual di bawah 50.000 unit di seluruh dunia. Tahun lalu saja, hanya terlego 9.819 di Amerika, jauh di bawah target 50.000 unit. Padahal, Nissan sudah memberi insentif 6.000 dollar AS untuk kendaraan hatchback. Bahkan sewa per hari Leaf ikut ditekan 199 dollar menjadi tinggal 1.999 dollar per bulan.
"Kami akan terus mempromosikan kendaraan listrik, meski agak berat. Saat bersamaan, kita sebagai orang bisnis, juga akan mengembangkan dan mengirimkan mobil hibrida karena ada pasar dan konsumen yang butuh itu,"tegas Ghosn.
Toyota konsen ke fuel-cell
Sementara Toyota dengan hybridnya terbilang sukses. Tahun lalu di AS berhasil terjual 327.413 unit dan 1,2 juta unit secara global. Bila ditotal sejak pertama (1997) hingga sekarang sudah mendekati 5 juta unit.
Bila Nissan mengucurkan dana investasi 5 miliar dollar AS, Toyota telah menghabiskan anggaran sampai 10 miliar dollar Amerika (Rp97,2 triliun) untuk mengembangkan, membangung dan memasarkan berbagai mobil hibrida. Prius sebagai proyek pertama menuai kepopuleran dan pasarnya sekarang sudah menguntungkan.
Meski sudah sukses dengan teknologi hybrid yang sudah memasarkan 12 model, Toyota terus melakukan terobosan terhadap teknologi hijau. Kini, produsen terbesar di Jepang itu gencar dengan proyek fuel-cell (mengubah dari hidrogen menjadi listrik).
Wakil Ketua TMC Takeshi Uchiyamada yang dijuluki "Bapak Prius" merasa yakin kalau kendaraan fuel-cell jauh lebih menjanjikan ketimbang listrik. "Karena jarak tempuh, biaya, dan waktu pengisian baterai, maka kendaraan listrik belum layak menggantikan kendaraan paling konvensional. Kami membutuhkan sesuatu yang baru sama sekaliu," tegas Uchiyamada.



0 komentar:
Posting Komentar